RSS

Senyum Guruku di Pesantren Darul Arafah

Guru-guru yang penuh dedikasi

        Senyummu yang menawan membuat kami bangga sebagai muridmu, duduk bersama dalam kesatuan barisan untuk meningkatkan pendidikan para santrinya. Wajah-wajah indah mereka mengantarkan kita mengenang jasa-jasa pahlawan ini. Aku diajari bahasa arab dan bahasa inggris oleh mereka, dan saya yakin antum juga merasakannya. Bahkan mungkin ada sebagian dari kita yang memang murid kesayangan mereka. Tapi itu dulu….

Senyum Guru Pesantren Darul Arafah

Kita banyak belajar dari mereka berbagai ilmu, dari ilmu tafsir, qowaid, nahwu, mushtolahul hadis, mahfuzhot sampai munjid yang menjadi alas tidur kita dikelas, itu semua menjadi saksi bahwa mereka benar mengajarkan kebaikan untuk kita. sampailah jadi kita sekarang seperti ini. Dibalik itu juga mungkin kita pernah dimarahi,  ditempeleng, disetrap, bahkan di botak oleh mereka akibat dari tingkahlaku kita yang tidak baik, semua itu juga menjadi pengalaman berharga yang tak terlupakan.

Foto diambil pada saat foto bareng bersama seluruh santri perkelasnya. dari foto tersebut memang masih banyak guru-guru yang belum tampak, tapi tak mengapa juga, insyaAllah mereka menjadi pengobat rindu kita disaat kita sudah jauh dari dunia pesantren. Senyum manis dari guruku masih terbayang dimataku, dan sejujurnya aku katakan Ana Uhibbukum Fillah.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 29, 2011 in Dewan Guru

 

Tag: , ,

Group Drum Band Pesantren Darul Arafah Raya

Grup Drum Band Darul ArafahBermula dengan semangat yang tinggi, kami dikumpulkan untuk diberi tahu bahwa, hari ini akan di umumkan dibuka pendaftaran mengikuti kegiatan ekstra kurikuler yaitu Marching Band. Mendengar namanya yang sangat menarik, membuat santri ketika itu ramai-ramai ingin mendaftar. Ditulislah nama kami satu persatu. Ayo siapa lagi…. tanya ust waktu itu. Digawangi oleh Abdi Guna Negara memegang kayu sebagai pimpinan Marching Band, dimulailah latihan. Pas beranjak mau pergi latihan, masing-masing peserta bertanya-tanya, pake apa kita mau latihan..alatnya aja gak ada, tanya kawan-kawan. Dengan semangat ust menjawab, kita latihan dulu dengan apa adanya, yang ada ember bawa kalian ke sini, kita pukul sama-sama untuk latihan… wahhh Hancur deh ember ku, mana cuma satu lagi.  Walaupun demikian kami tetap semangat untuk memajukan program ini. Latihan dimulai di lapangan bola dan selanjutnya berpindah ke lapangan sebelahnya, waktu itu gedung maskan mina dan muuzdalifah belum di bangun. ditempat itulah kami latihan, sungguh seru….., walau agak memalukan, tapi kami lakukan dengan penuh semangat..     Adakah antum ikut latihan pada waktu itu ? Lucu ya lihat gambarnya, selanjutnya akan kami posting perkembangan Drum Band Pesantren Darul Arafah selanjutnya, tetap stay tune ya….oya itu yang ngajarin kita main drum band adalah Ust Sulaiman dan Ust Mustafa Ridwan masih ingat kan antum dengan mereka ?

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 26, 2011 in Drum Band

 

Tag: , ,

Keceriaan Guru Darul Arafah

Keceriaan Guru Darul Arafah

Keceriaan Guru Pesantren Darul ArafahKalau di bilang ini adalah refreshing, ya memang benar, dibalik kesibukan memberi ilmu, di ma’had,  mereka juga butuh refreshing.  Jalan-jalan didaerah sekitar Pesantren Darul Arafah memang mengasikkan, daerahnya dikelilingi oleh sungai-sungai kecil yang airnya jernih dan segar, juga pemandangan indah nan menarik dipandang mata. Mungkin anda tahu dimana pastinya mereka berfoto, ayo coba sebutkan….. Biasanya yang banyak tahu adalah anggota bagian pramuka, so pastilah mereka memang kerjanya suka melacak jejak, termasuk membuat jalan baru di hutan hiii ngeri.

Tapi kalau guru kita yang ini, mereka memang betul-betul pengalaman dalam mencari lokasi mantap untuk rekreasi, sambil berpramuka ria, mereka juga bersenang-senang menikmati alam. namun sekarang apa masih ada lokasi ini ya setelah berlalu belasan tahun ?. Kayaknya sudah menjadi kota layaknya ibu kota Medan. Sudah banyak penduduknya dan mungkin airnya  sudah tidak sejernih dulu, sudah tercemar.  Coba kita tanya kpd ust yang enam ini, ust ahmad bashori, ust ahmad masuji, ust saiful millah, ust miftah, ust farid wajdi. Kalau kamu murid ust tersebut, ayo dong kasih komentar agar kita-kita ikut terkenang.  Kemana ya mereka sekarang ?

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada April 20, 2011 in Dewan Guru

 

Tag: , ,

Kunjungan Tamu dari Arab Saudi ke Darul Arafah.

Kunjungan Tamu dari Arab Saudi ke Darul Arafah.

Foto diambil pada tahun 1987

 

Kunjungan Tamu dari Arab Saudi ke Darul Arafah tahun 1987

Darul Arafah saat itu sedang membuka jaringan persahabatan kepada dunia-dunia luar, salah satunya Arab Saudi. Kami yang masih kecil ketika itu disuruh kumpul untuk menyambut tamu dengan berbaris menghormatinya. Acara di adakan di aula yang saat itu masih mampu menampung santri sebanyak dua ratus orang. Sangat mengagumkan sekali ketika tamu tersebut berbicara bahasa arab dan disambut dengan riuh gembira para santri. Tapi maklum bagiku, saat itu banyak dari kami yang belum mampu memahami bahasa arab, karena baru beberapa bulan tinggal disitu. Acara di hadiri oleh pendiri, bapak naga lubis, bapak hasballah taib, dan guru-guru pertama yang telah duluan mengajar di Darul arafah.

Kami para santri duduk dengan tertib didahului dengan duduk yang paling depan para santri generasi pertama, wajahnya tampak berseri, al asyari, naziruddin dan lainnya. Senang sekali rasanya ketika itu bisa berkumpul di aula dalam rangka menyambut kedatangan tamu dari LN.

Kalau anda bukan generasi pertama, inilah gambar sebagai bukti bahwa Darul Arafah berkembang dan terbang menuju cakrawala nan luas menghadapi tantangan jaman untuk mencetak generasi unggul di masa depan.

 

 

Kunjungan Tamu dari Arab Saudi ke Darul Arafah.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 13, 2011 in Tamu - tamu istimewa

 

Tag: , , ,

Guru-guru Darul Arafah periode kesatu dan kedua

Guru-guru Darul Arafah Berfoto Bersama Tim Pramuka di Depan  Gedung Al Hijrah

Guru-guru Pesantren Darul Arafah periode kesatu dan kedua

Masih ingatkah anda dengan ilmu yang mereka berikan berupa bait-bait hikmah yang mengarahkan kita untuk lebih pintar berbahasa arab? Ya benar, merekalah perintisnya. “Haza kitabun” awal kita mengenal bahasa arab. Pada saat kita baru menduduki kelas satu tsanawiyah, banyak ilmu yang ditransfer ke kita, dari yang kecil-kecil sampai yang besar-besar. Terkadang kita anggap itu hanya hal yang sepele dan tidak memilki arti, sehingga menganggap remeh apa yang diberikannya. Dengan kesabaran dan kesungguhan mereka dalam mendidik santri, jadilah kita seperti begini. Ya diantara kita ada yang jadi doctor, guru, insinyur, ust, pengusaha, dan ada juga yang menjadi hancur tak tahu identitas diri, bahkan sampah di masyarakat.  Memang tragis mereka yang tak tahu arti hidup, padahal di  darul arafah kita di ajari untuk lebih siap menghadapi kehidupan.

Berbicara tentang mereka, banyak hal yang menarik untuk dibicarakan, dari segi keberanian sampai keikhlasan yang melatar belakangi kehadiran mereka di sini.  Umumnya mereka berasal dari pulau jawa, setelah menamatkan study di pesantren Darussalam Gontor, mereka dikirim untuk mengembangkan islam ke berbagai ma’had di nusantara, salah satunya Darul Arafah. Memang  waktu itu Darul Arafah masih sangat gersang dan sedikit bangunan, apalagi masyarakat sekitar yang masih beragama nasrani, itulah yang menjadi azzam kuat bagi mereka untuk mengabdikan ilmunya disini.

Kami yang masih kecil saat itu dan melihat keadaan yang demikian, banyak yang gak kerasan dan minta pulang, yarji’ alad dawam katanya, tapi berbekal dorongan orang tua dan masa depan yang ingin di capai, tidak sedikit yang berhasil menorehkan tinta wisuda pada saat kelas enam. Memang itu semua butuh perjuangan dan azzam yang kuat untuk merealisasikannya. Di bawah asuhan guru-guru periode kedua darul arafah, kami hidup, tumbuh dan berkembang menjadi dewasa yang siap berkiprah di masyarakat membangun negara.

Gambar diatas diambil saat pelaksaanaan Pramuka dan kunjungan dari Pihak pengelola Gugus depan, dari  gambar tersebut masih teringat wajah-wajah polos mereka yang siap memajukan darul arafah dengan segenap tenaga, dan memberikan ilmu kepada semua santri. Kami masih ingat nama-nama mereka (kalau gak salah ya). mereka yang sdg jongkok dari kanan ke kiri, ust ali sahbana (hehe masih muda kan), ust insan muhtadawan, ust ishom suryana, ust masrukhin aminuddin, ust naga sakti lubis, ust khairuddin harahap, ust hasan hidayat, ust samsul qomar, ust khobir asari, alex (kayaknya dia bukan ust, dia dari wil timur irian jaya), ust sholeh fikri.

Adapun yang berdiri mereka adalah, kita sebut dari kiri ke kanan ya, ust amroini derajat, disebelah ust amroini kayaknya utusan dari gudep pramuka (kalau gak salah), ust hamdani khalifah (keren  kan waktu masih muda), beberapa org utusan gudep, lalu Prof DR Hasballah Thaib (orang aceh), beberapa ibu-ibu dari gudep, ust saifuddin, dan terakhir ust Ikromy saputra (tampak masih muda dan ganteng). Itulah mereka yang telah berkecimpung duluan berada di Darul Arafah untuk mengabdikan ilmu, ayo kawan terus maju- ayo  maju-maju….

Thanks very much for you my great teacher, may Allah Bless you in your live now and tomorrow till the end of the world. Terima kasih juga buat teman-teman alumni kedua, Ali tinendung, Has Khairul, Hengki juli, Said Alwi, Ihsan Nur dll, kapan kita bisa ketemu lagi ya…

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada April 12, 2011 in Dewan Guru

 

Tag: , , ,

Darul Arafah dan Guruku yang Mulia


Mungkin belajar menuntut  ilmu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, penuh lika-liku dan onak duri yang merintang. Tapi dibalik itulah terukir manisnya sebuah pengetahuan yang menopang manusia menjadi beradab. Aku teringat dengan mahfuzhat hafalanku yang tersisa di otak, berkata ” man lam yazuq dzullat ta’allumi saa ‘atan, tazarro’a dzullal jahli thuula hayaa tih “. Tak ayal lagi di Pesantren Darul Arafah di penuhi guru-guru yang mulia penuh dengan dedikasi dan semangat, mengajarkan kita kalimat-kalimat hikmah yang bisa mendekatkan kita kepada surga. Aku tidak mengatakan bahwa belajar di Darul Arafah dijamin akan masuk surga, tetapi ia bisa mengarahkan kamu dan saya untuk lebih jelas melihat jalan menuju surga. Tidak banyak kata, tetapi lebih ditekankan amal, itulah yang diwariskan oleh guruku, Darul Arafah.

Berbekal niat yang ikhlas, guruku mengajarkanku tentang arti kitab, sehingga di zamanku  tidak sedikit guru yang menangis sedih apabila melihat anak didiknya tidak mampu meraih ilmu. Guru-guru itu adalah hasil cetakan Gontor Darussalam. Kalau kita lihat di Indonesia, banyak alumni dari sana yang menjadi pemimpin Indonesia.

Tapi bukan itu yang ku maksud, ia adalah sebuah terminal untuk mencetak generasi menuju masa depan yang gemilang, Kalau ust Indra sering bilang dengan kata-kata “Madecer”, yakni masa depan cerah. Itulah suatu pengharapan dari seorang alumni untuk almamaternya, agar terus bergerak menghimpun kekuatan hatta yaumul qiyamah menjadi saksi atas amal-amal yang telah ditorehkan untuk negara ini. Oh Guruku….Darul Arafah.

Aku ingin bertanya, ayo siapa diantara kita semua yang mengenal mereka satu demi satu dengan baik………………

Guruku, oh guruku, I Love You  Much……..

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 22, 2011 in Dewan Guru

 

Tag: , , , ,

Galeri

Darul Arafah yang Ku Kenal

Darul Arafah yang ku Kenal.

Pendiri Pesantren Darul Arafah

Di sebelah ini terdapat foto pendiri Pesantren Darul Arafah, yaitu Bapak H.Amrullah Naga Lubis dan di dampingi oleh direktur masa itu, yakni Ust Hamdani Khalifah. Tidak ada yang istimewa dari keduanya kecuali mereka adalah orang-orang yang memiliki andil besar dalam menciptakan generasi mulia, mereka tidak lelah mencurahkan tenaga  untuk pembangunan generasi, agar berdedikasi tinggi dan terampil di masyarakat. Pada tahun 1986 saat didirikannya pesantren , masyarakat ramai menitipkan anaknya pada lembaga ini, karena berharap akan terwujudnya generasi mulia yang dicetak melalui lembaga pendidikan ini, tidak terkecuali orang tua mu. Foto mereka berdua tampak lebih muda dari sekarang, so pastilah karena sekarang mereka berdua sudah tua. Kadang terasa rindu untuk bersama mereka lagi dan duduk bercengkerama membahas ilmu pengetahuan yang up to date sekarang, tapi jarak yang terasa jauh sehingga sulit untuk di wujudkan. Gambar ini diambil pada saat sebuah acara yang diadakan di aula atau kalau gak salah bahasa arabnya Qoo ‘ah. Mungkin aulanya sudah tidak ada lagi dan sudah berubah menjadi bangunan lain. Tapi kami masih ingat , ini adalah gedung yang terletak disamping asrama 17 Agustus. Ya tepat……

Boleh kilas balik, dulu para santri kalau ingin dikumpulkan dalam sebuah acara, mereka dikumpulkan di aula tersebut, maklum saat itu jumlah santri baru sekitar 200 orang. Tapi kalau sekarang gak mungkin lagi dikumpulkan disitu, pasti sudah ada gedung baru yang lebih representatif untuk berkumpul. sudah dulu ya….

Baca artikel selanjutnya yang lebih seru  ……………………………..

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 15, 2011 in Dewan Guru

 

Tag: , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.